HUJAN
Hujan, kau terlalu awal untuk datang di awal tahun ini. dingin, basah, itu yang kurasa sekarang. Kau tau apa yang sebagian orang katakan tentang dirimu? Mereka bilang kau datang dengan membawa kesedihan, mereka bilang kau datang dengan membawa kemalangan.
Hujan, mau kah kau tau pendapatku tentang dirimu? Aku tidak sepenuhnya percaya dengan mereka, tapi tidak juga mengingkari pendapat mereka. Kau pasti tau persis apa yang telah aku rasakan ketika kau berkali-kali datang untuk ku tahun kemarin.
Hujan, ketika itu kau datang bersamaan dengan jatuhnya air mataku, bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kehangatan di tengah-tengah perjuangan bersama-sama 18 teman, bersatu, merangkul, terus berjabat tangan sampai akhirnya puncak Perbakti pun kami duduki dengan rasa bangga. Kau datang ketika aku belajar sebuah totalitas.
Hujan, waktu itu kau datang bersamaan dengan sorak-sorai aku dan teman-temanku, tidak banyak memang, tapi perjuangan kami untuk sampai di stadion Maguwoharjo merupakan suatu kebanggan tersendiri, bersama-sama bersorak sampai pertandingan usai, walau tim kami terpaksa lunglai . Kau datang ketika aku belajar sebuah loyalitas.
Hujan, saat itu kau datang bersamaan dengan sebuah kegelesihan diriku, merasa bersalah dengan seseorang yang ku sayang, kau pun menemaniku, kita bersama-sama hadir kepadanya untuk memohon maaf, memohon sebuah hal yang bukan hanya dengan perkataan, akan tetapi didahului perjuangan yang tidak mudah. Kau datang ketika aku belajar sebuah perjuangan.
Hujan, tahun lalu datangnya dirimu, banyak memberi ku pelajaran, banyak memberi ku kenangan. Mau kah kau datang kembali kepada ku di tahun ini dengan sebuah kebahagiaan?
Read More...

Recent Comments